Dunia Tanpa Bencana (?)
Bila kita membaca judul dari tulisan ini mungkin kita akan bertanya-tanya, mungkinkah bencana di dunia ini hilang? atau justru malah sebaliknya? Sebelum kita lahir ke dunia, tempat ini sebenarnya sudah sangat akrab dengan yang namanya bencana. Apakah bencana alam atau bencana nonalam. Misal bencana kemanusiaan, bencana sosial dan, beberapa macam jenis bencana lainnya. Coba kita ingat. Sejak kita masih kecil dulu, kita sudah mengalami beberapa bencana. Bagi kita yang saat ini usianya antara 45 hingga 55 tahun, pasti pernah mengalami bencana mahalnya pangan (larang pangan) saat itu. Sungguh jauh berbeda bila dibandingkan dengan kondisi saat ini. Semua serba ada. Dalam satu hari kita dan keluarga kita bisa makan sampai lima hingga enam kali. Dengan kualitas makanan yang bisa dibilang enak. Dulu, walau harga beras 1 kg hanya Rp250,00 (dua ratus lima puluh rupiah), tapi tak semua orang bisa membelinya. Maka yang dimakan adalah nasi jagung. Makan nasi putih (beras) hanya ketika saat panen padi saja. Belum lagi dengan bencana yang lain.
Bila hari ini kita mendapati di dunia, termasuk di negeri kita, bencana bertubi-tubi datang silih berganti maka jangan heran dan jangan kaget. Inilah dunia. Di Indonesia, belum teratasi satu musibah dan bencana berupa pandemi yang belum berakhir di akhir tahun 2020, datang lagi bencana baru yang mengancam ketenteraman masyarakatnya. Fenomena Lanina berupa perubahan musim secara drastis dari musim kemarau ke musim penghujan sehingga menimbulkan banyak bencana, seperti angin kencang, puting beliung, hujan dengan intensitas sangat tinggi yang menimbulkan bencana lain berupa banjir bandang dan tanah longsor terjadi di mana–mana.
Belum selesai pemerintah setempat mengatasi bencana yang satu ini, sudah datang kabar bencana lain. Beberapa gunung berapi memuntahkan lava panas dan beberapa mengeluarkan lahar dingin yang efeknya membuat daerah sekitarnya merasakan dampak banjir lahar dan hujan debu yang mematikan tanaman di perkebunan petani sekitarnya.
Kabar duka masih berlanjut dengan adanya musibah banjir bandang di mana mana. Musibah Covid -19 sedikit mereda, lalu datang lagi dengan varian barunya, Delta. Setelah teratasi, dan mereda, datang lagi varian barunya. Omicron. Dan entah apa lagi varian baru yang akan muncul. Kata teman-teman (dengan nada gurauan) sudah muncul varian setelah Omicron yaitu Sinetron. Dan ini selalu bersambung. Gak jelas kapan selesainya.
Sebenarnya, jauh sebelum manusia ditempatkan oleh Allah SWT
di bumi ini, Allah SWT sudah pernah
menempatkan makhluk lain yang para Ulama’ menyebutnya dengan nama Banul Jan dan Abul Jan yang di amanahi oleh-Nya
menjadi kholifah pengatur
bumi seisinya. Dalam beberapa kisah para ulama’ bahwa makhluk ini diberi
umur sangat panjang oleh Allah antara
seribu sampai dua ribu tahun setiap generasi dan mereka diberi bentuk
tubuh yang sangat
besar, yang tinggi
badannya mencapai 30 meter. Makhluk
ini
berkembang dan menjadi sangat banyak kemudian memenuhi bumi. Tapi amanah yang Allah berikan bagi mereka untuk merawat bumi ini ternyata tidak dijalankan, mereka malah membuat banyak kerusakan di muka bumi sehingga Allah murka dan tidak berkenan dengan ulah mereka. Maka Allah musnahkan generasi makhluk Banul Jan dan Abul Jan ini dengan hujan meteor yang sangat dahsyat. Dan musnahlah mereka terkubur dalam bumi ini.
Setelah beberap ribu tahun dan bumi sudah di recovery oleh Allah SWT, sampai siap di huni oleh makhluk berikutnya, maka Allah SWT turunkan generasi manusia di muka bumi ini yaitu Nabi Adam AS dan istrinya yaitu Hawa’. Sepasang manusia makhluk paling sempurna ini menjadi penghuni baru alam bumi yang telah disiapkan oleh Allah SWT sebelumnya. Pelan tapi pasti, manusia berkembang dan menjadi masyarakat manusia yang tugasnya sama dengan tugas makhluk sebelumnya yaitu menjadi khalifah mengatur bumi ini supaya menjadi baik.
Setelah beberapa masa kenabian Nabi Adam AS berlalu sampai pada masa kenabian Nabi Nuh AS bumi ini kembali diterpa bencana banjir bandang terbesar sepanjang sejarah peradaban manusia. Banjir setinggi kurang lebih 10000 meter dari permukaan laut yang menenggelamkan mount effrest, gunung setinggi 8888 meter itu memusnahkan seluruh manusia kaum Nabi Nuh AS yang durhaka kepada Allah SWT. Dan yang selamat hanya beberapa puluh manusia pengikut setia Nabi Nuh AS dan menurunkan manusia generasi berikutnya.
Bencana kemarau panjang sampai tujuh tahun tidak turun hujan juga pernah menimpa kaum Nabi Musa AS. Bencana hujan batu, angin panas, bumi terbalik atau likuifaksi juga pernah terjadi pasa masa kenabian Nabi Hud AS, Nabi Syuaib AS bahkan musibah Tho’un (penyakit menular) yang sangat ganas juga pernah menimpa ummat islam pada masa kekhalifahan Umar Bin Khattab Radhiyallaahu ‘anhu.
Bencana dan musibah yang terjadi atau yang turun ke muka ini disebabkan banyak hal. Ada yang merupakan adzab atau siksaan dunia bagi kaum tertentu yang sudah keterlaluan menentang risalah kenabian utusan Allah SWT. Ada yang merupakan ujian keimanan bagi kaum tertentu yang setia kepada utusan Allah SWT dan lain lain. Lalu bagaimana dengan musibah dan bencana yang terjadi seperti sekarang di tahun ini? apakah merupakan siksaan bagi kaum yang durhaka ataukah sebagai ujian bagi kaum beriman? Jawabannya bisa dua duanya.
Tapi yang terpenting bagi kita adalah menyadari bahwa
seperti inilah dunia. Selama masih
di alam dunia, maka selama itu pula ada dua hal yang berbeda yang akan selalu menyertainya. Ada rasa aman ada juga rasa
takut atau khawatir. Ada kebaikan ada juga kejahatan. Ada penemua penyakit
ada juga penemuan
obat dan begitu seterusnya sepanjang sejarah peradaban bumi dan
manusia. Kita tidak perlu mudah kaget atau terheran–heran dengan
kondisi dunia seperti apa. Ya seperti inilah perjalanan dunia. Bahkan awal kejadian
alam inipun dimuali
oleh Allah SWT dengan sebuah ledakan besar
yang kita kenal dengan teori Big Bang. Bahkan teori ini juga berdasar pada salah satu ayat Al qur’an Surat Al anbiya’ ayat 30 .

Dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?
Yang terpenting bagi kita adalah kita menyadari dengan sepenuh hati bahwa kita ini manusia makhluk Allah yang paling sempurna. Yang paling disayang Allah. Yang semua kebutuhan kita dipenuhi. Bahkan jauh waktu sebelum kita memintanya. Kita yang dijanjikan surga. Yang kalau salah masih ada ampunan dariNya. Yang Allah selalu menunggu taubat kita bila terlanjur dosa atau durhaka kepada-Nya dan seterusnya. Maka jangan lagi membuat stigma negatif tentang apapun yang terjadi di alam ini. Karena sudah menjadi hukum alam dan sunnatullah yang akan berlaku sepanjang zaman.
Jadilah manusia yang ikhlas dengan semua apa yang bisa kita keluarkan dan kita berikan kepada siapapun. Dan jadilah manusia yang ridla (rela) dengan semua yang kita terima dari apapun pemberian Allah kepada kita. Dan dengan dua sikap hati itulah kita akan menemukan dan merasakan manisnya beriman kepada Allah SWT dari hidup sampai kelak menghadap kepada-Nya dengan khusnul khotimah.
Sumber Gambar : https://images.app.goo.gl/GX1gU7zFFgBeAvMF6
Sidorejo
Jum’at 24 Februari 2022
Jam 21.21 wib.
Syaifuddin. Guru MTs Terpadu RQ.