Cerita Inspiratif ( Edisi 1-6 Agustus 2022 )
NUUR DAN NAAR
Nur dan nar itu dari satu akar kata “naara-yanuuru-nuuran” di proses i’ilal menjadi ‘nuur’
Saya tergelitik mengamati ini saat membersamai mapel Tafsir Sains siswa kelas xi dengan materi ‘Api’.
Sebagai pijakan adalah surat kahfi yang menceritakan Prose awal penciptaan Adam as. Al Kahfi 50:
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Dia adalah dari (golongan) jin, maka dia mendurhakai perintah Tuhannya….”
Informasi yang didapat dari ayat ini bahwa iblis itu satu golongan dengan jin. Bisa juga iblis itu segolongan dengan malaikat.
Coba kita perhatikan, ‘mereka sujud kecuali iblis’, malaikat sujud kecuali iblis.
Itu bisa menjadi tidak satu golongan jika memang struktur kalimat tersebut termasuk susunan ‘istisna munqathi”, artinya antaraa ‘mereka’ dan ‘iblis’ itu tidak satu golongan.
Saya jadi tergelitik untuk mencari benang merah dari kemungkinan-kemunkinan tersebut.
Jika ditilik dari bahan baku penyusun malaikat, jin, iblis.
Malaikat dari cahaya (nur) jin iblis dari api (nar).
Itu satu akar kata lho.
Secara fisik juga kan?
Cahaya jika suhunya naik, pembakaran, maka berubah wujud menjadi api.
Api itu menghasilkan cahaya juga kan?
Jadi ingat praktikum saat sekolah dulu,
Cahaya matahari dikumpulkan melalui lup diatas jerami, maka jerami terbakar deh.
Jika dilihat dari sudut bahan bakunya sih makhluk gaib malaikat, jin, iblis itu dari akar kata yang sama, nur dan nar.
#mohon koreksi ya..
(aa)
SURAT MARYAM
Diawali dengan kisah nabiyullah Zakariyyah
‘idz naadaa rabbahuu nidaa-an khafiyya’
Ketika Zakariyya memanggil Tuhannya dengan panggilan lirih.
Tafsir Jalalain menafsirkan doa yang dilakukan pada malam hari
Kenapa malam hari?
Karena diucapkan dengan lirih, berarti suasana sunyi.
Tuhan dawuhkan malam hari itu saat tepat untuk istirahat bersamaan dengan tenggelamnya mentari
Di sisi lain Tuhan juga dawuhkan agar kita bertahajud pada duapertiga akhir malam sebagai kesunatan.
Mari kita hubungkan kedua dawuh itu.
Kenapa malam hari sebagai waktu yang tepat untuk berdoa?
Karena saat itu rerata makhluk istirahat, tak beraktifitas, sunyi, sehingga munculkan sinyal yang jernih, dan ter- connecting dengan sruuutttt wusss, cepat!!
Pas jika Tuhan perintahkan kita tahajud sebagai media berdoa.
Kita, manusia, hamba Tuhan, sudah sewajarnya butuh, berdoa, tahajud.
Atau..
Sebagai hamba yang rindu belaian Tuhan.
Apapun.
Tahajudlah!!
(aa)
APA YANG KAU LAKUKAN?
Naik bus, sopir ngebut, laju kanan kiri, high speed, hati ngerii
Apa yang bisa saya lakukan?
Pejamkan mata, wiridkan sholawat, batinkan doa semoga selamat.
Dan…
Lha kok pak sopir sekarang melambatkan lajunya.
Ha..ha..
Karena memang harus bergantian satu lajur untuk berdua.
Alhamdulillah..lega!!
Itu sebagaimana saat kita menghadapi membersamai seseorang yang cara berpikirnya gak jelas, perilakunya ngawur tanpa arah.
Apa yang bisa kita lakukan?
Hentikan komen..
Pejamkan mata, tutup telinga
Satu saja, sholawat diprempeng sertai doa.
Yakini semua ada masanya.
Dan ada hentinya.
Minimal kita bisa ambil hikmah
Toh semua Tuhan yang bertitah.
Semoga Tuhan menjauhkan kita dari fitnah dunia akhirat.
Amin amin
Happy Jumat
(aa)
KULUU MIN THOYYIBATIMAA RAZAQNAAKUM
Ada dua informasi pada ayat ini
1. Yang kita ‘makan’ itu dari rejeki yang bagus saja
2. Rejeki itu Kita yang ngasih, ‘kita’ bukan ‘aku’.
Baiklah kita bahas yuk..
‘Makan’ itu memasukkan sesuatu ke dalam diri kita, baik melalui mulut, hidung, mata, telinga, hati, serta lubang Indra yang lain.
Ini bermakna ‘makan’ bisa berujud makanan, informasi, pengetahuan, teladan, suara.
Apapun yang ditangkap oleh Indra kita.
Pilih dan ambillah yang ‘thoyyibaat’ yang bagus, cakep, bergizi, bermutu, bermanfaat, berguna dan sejenisnya.
‘thoyyibaat’ juga bisa diperdalam dengan yang halal.
Yang mengucurkan rejeki itu atas nama ‘Kami’, bukan ‘Aku’.
Artinya, rejeki itu bukan langsung Tuhan yang turun, tapi melalui banyak rute.
Mulai dari Mikail, juragan, pekerja, orangtua dan seterusnya..
Bukan kita berdoa minta duit terus mak bedunduk turun segepok duit.
Harus berproses dulu…
Begitu ..
Mugi sehat jiwa raga njih…
Amin amin
#nis
(aa)
GAJAH
Kita pasti ngambek, jika dikatain ‘tubuh kok segede gajah’
Itu penanda, baper kawan..
Gajah, berkah tubuh dia seberat 5 ton, akhirnya dia bisa angkut barang hingga 3 kwintal.
Coba liat kucing, mungil manis, gemesin, dia gak bisa angkut meski se-ringan bantal.
Dari gajah kita bisa ambil moral valeu bahwa
Pemberian Tuhan yang dalam pandangan orang itu cacat, jelek, hina..
Abaikan !!
Jadikan itu energi pembangkit untuk menguras, mengeksplore, sisi baik yang kita miliki.
Ingat, setiap produk Tuhan berpasangan
Tidak sendirian.
Jadi saatnya eksplore sisi baik kita
Skip, tenggelamkan yang tak patut.
Setuju Luurs..
Berangkat…
#nisrin
(aa)
IKAN
Kamis pagi
Ada kelas tafsir sains di x mia 1
Chapternya Ikan
Pertanyaan yang hhmmm
Ikan itu meski mandi terus-terusan tapi kok ya tetap amis ya…
Itu kayak kita,
Tiap hari mendapatkan ilmu, dari pagi hingga nanti sore
Tapi kok ya…iman dan akhlak kita tetep saja ya…
Sholatnya belum tumakninah
Disiplin masih juga harus di absen
Belajar masih ada rasa malas
Hhmmm
Seharusnya, semakin nambah ilmu maka iman makin tebal, ibadah sregep, perilaku wapik.
Bismillah…semangat!!
Ayat tentang ikan itu berlatar tentang kisah Bani Israil yang dilarang Tuhan mencari ikan pada hari Sabtu, karena Sabtu waktunya ibadah, sebagaimana kita yang hari Jumat.
Juga tentang Nabiyullah Yunus yang kabur dari tantangan dakwah kepada kaumnya.
Sehingga Tuhan memberinya pelajaran dengan cara ‘ditelan’ ikan.
Ada juga ikan sebagai penanda jejak lokasi posisi nabi Hidlir yang akan ditemui nabi Musa.
(aa)
CUKUP KEMATIAN SEBAGAI PITUTUR, NASIHAT KITA.
Nasihat bahwa
Nyawa itu berdurasi, yang menjadi rahasiaNya kapan masa sewanya habis.
Tidak usah kahwatir, kapanpun habis durasinya, toh nama yang sering kita wiridkan adalah nama Tuhan dan RasulNya, bukan nama ayang, anak, aba, adek dll.
Itu penanda cinta. Mana tega Tuhan yang Rahman Rahim itu abaikan cinta kita.
Yang menjadi pikiran kita adalah
Kita mencintai, tapi menghianati.
Dengan apa?
Abaikan nikmat Dia dengan tidak merasa berbahagia atas semua pemberianNya.
Khawatir juga,
Cinta kita sama Tuhan yang pasti tercatat sebagai kebaikan dan terbalas,
Berarti itu naikkan point kebaikan kita,
Lha mucul masalah
Kebaikan itu kita grogoti dengan perilaku lain sih.
Kadang kita sedekah, sambil ngomel
Sholat sih, tapi nggerundel
Ngasih sih, tapi nuntut balasan
Cinta sih, tapi minta dicintai, gak tulus kan..
Upsss
Nah, itu yang menjadi pikiran kita
Tapi, wait
Gak usah dipikir deh
Mari pelan-pelan kita perbaiki kualitas kebaikan
Siapa tahu dengan itu Tuhan akan ngasih bonus umur.
Semoga Allah berkahi umur kita
Jika umur depan memang baik, biarlah Allah panjangkan
Jika di depan malah gak karu-karuan, kacau
Biarlah Tuhan segera ambil nyawa ini.
(berani bilang amin?! hhmmm)
#nis
(aa)
SIKSA
Elsa, kelas xii, mungil, murottalnya selalu lancar. Kali ini yang dihafalkan adalah lembar terakhir surat ad Dukhan juz 25.
Jika pada giliran pertama Amanda lantunkan ayat tentang siksaan,
Lha kok berikutnya Elsa makin menggamblangkan diskripsi siksa neraka.
Hadeuh..ngeri!!
Diawali dengan ‘innasy syajarataz zaqqum’
Sesungguhnya pohon zaqqum, pohon yang sangat pahit, tumbuh di dasar neraka, santapan manusia yang banyak dosa,
Itu seperti cairan besi yang mendidih yang ngendon dalam perut penghuni neraka. cair mbulat-mbulat (mungkal-mungkal) seperti air mendidih.
Duh Gusti,
Selanjutnya, seretlah dia ke tengah-tengah neraka, lantas tuangkanlah cairan tersebut dari atas kepalanya.
Cur…cur..
‘Dzuq’, rasakan!!
Lue yang menganggap diri lue perkasa serta mulia. Rasakan ini yang dulu lue gak percaya, ragu…
Oh Gusti my Lord…
Begitulah Tuhan memberikan gambaran rinci tentang siksanya, Tuhan yang Jabbar dan Qahhar.
Ya Tuhan kami, berikan pada kami kebaikan dunia dan akhirat, jagalah kami dari siksa neraka
Amin amin amin yaa rabbal aalamin
Gelisah, kudu piye ya…
Kita, makhluk bernama manusia, paling mudah beradaptasi, lentur kayak karet. Mudah terresonansi. Kanan kiri berbunyi, ikut bergaung deh….
Begitu meluncur fashion week, muncul deh week-week yang lain.
Ha..ha…
Istilah Jepangnya ‘latah’
Alhamdulillah, ini berresonansi menghafal al Quran.
Semua lembaga pendidikan jadikan program’tahfidl al Quran’ sebagai menu unggulan.
Akhir-akhir ini saya berpikir.
Menghafal al Quran itu suatu kegiatan yang very sulit.
Mencetak hafalan ayat per ayat , lebih sulit lagi adalah memelihara simpanan hafalan yang telah kita punya, muraja’ah. Sulit poll.
Program ini jika diduakan dengan sekolah formal, dengan berlari kencang dan full semangat tanpa sambat, bisa lulus 30 juz selama 6 tahun, mulai kelas 7 SMP hingga kelas xii lulus SMA.
Nah, jika santri sudah khatam lulus 30 juz, terus pripun bagaimana how…
Satu, bertanggung jawab memelihara hafalan yang telah diraih.
Saat melanjutkan kuliah, berarti diduakan denga kuliah.
Seteleh lulus, menikah
Hafalan itu mau dikemanakan?
Jika di rumah kok mempunyai santri, anak didik, its oke!!
Jika tidak punya?
Kalo lulus kuliah, ijazah sarjana bisa untuk kerja
Lha ini syahadah ijazah tahfidl Quran??!!
Entahlah..
Serius, butuh keikhlasan 24 karat bagi pejuang Quran, Hamilil Qur’an.
Kokohkan aqidah, iman yang tebal mantap, Allah SWT dzat pengatur hambaNya.
Ra usah mikir dowo-dowo ulo….
(aa)