BERBAHAGIALAH ORANG-ORANG YANG BERTANGGUNG JAWAB
Dalam kehidupan ini hanya satu yang kita cari yaitu “kebahagiaan”. Baik kebahagiaan dunia maupun kebahagiaan akhirat. Hal ini sebagaimana do’a yang kita panjatkan setiap hari setiap selesai sholat.
ربنا اتنا فى الدنيا حسنة وفى الاخرة حسنة
Karena itulah setiap orang pasti berlomba-lomba untuk mencapai kebahagiaan ini. Entah itu dengan cara yang kotor atau cara yang baik.
Sebenarnya sangat mudah untuk mencapai kebahagiaan, tidak usah mencarinya dengan cara yang tidak baik apalagi sampai menghalalkan segala cara. Orang yang berbahagia adalah orang yang hatinya tenang, tidak gelisah dan selalu ceria dimanapun dan kapanpun. Ia selalu menampakkan wajah yang riang, sumringah kepada siapapun. Seakan ia tidak mempunyai beban hidup sedikitpun.
Sebaliknya jika hati kita selalu murung dan selalu gelisah, menampakkan wajah yang kurang ceria, maka ini adalah pertanda bahwa kita bukan orang yang berbahagia. Mengapa? karena kita selalu merasa diburu oleh beban yang tiada henti-hentinya mengejar kita, sehingga hati kita menjadi tidak tenang.
Sekarang perlu kita pertanyakan kenapa orang-orang yang tidak berbahagia selalu gelisah dan selalu murung serta tidak memiliki semangat dalam hidup? Ada beberapa jawaban untuk itu. Salah satunya adalah “Kurangnya rasa tanggung jawab” kita terhadap semua tugas yang kita miliki. Tugas yang harus selesai dalam waktu singkat menjadi molor dikarenakan kurangnya rasa tanggung jawab kita.
Dengan memiliki rasa kurang tanggung jawab menyebabkan pekerjaan kita menumpuk sehingga kita semakin merasa menjadi terdakwa oleh tugas-tugas disetiap saat. Bagaimana mungkin kita bisa merasakan ketenangan dan kebahagiaan kalau setiap saat kita selalu dikerjar-kejar oleh tugas.
Tanggung jawab merupakan pekerjaan yang berat, hal ini tidak mudah kita dapatkan, perlu waktu yang cukup lama untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Untuk itu perlu menanamkan kuat-kuat sejak dini rasa tanggung jawab didalam hati kita. Yang harus dibangun terlebih dahulu adalah sikap “Tegas” terhadap diri kita.
Imam ghozali mengatakan bahwa kebahagiaan dapat diraih oleh seseorang bila ia selalu “Istiqomah” terhadap tugas-tugas yang diembannya. Dalam setiap langkahnya selalu menyelaraskan dan menyeimbangkan antara ucapan dan perbuatannya. Ia paling tidak suka dengan sikap plin plan/plan plin atau tidak istiqomah, sikap tidak istiqomah hanya dimiliki orang-orang yang memiliki kualitas hidup rendah, meski sebenarnya ia adalah orang yang memiliki intelektual tinggi. Dan sebaliknya orang yang memiliki sikap istiqomah adalah orang-orang yang memiliki kualitas hidup yang tinggi dan management qolbu yang bagus, dan yang paling utama adalah orang yang memiliki sikap istiqomah ia akan mendapat keistimewaan dalam hidupnya.
الإِسْتِقَامَةُ خَيْرٌ مِنْ اَلْفِ كَرَامِةٍ
“ istiqomah itu lebih baik daripada seribu karomah “
Bagaimana tidak bahagia bila kita selalu dapat melaksanakan tugas dengan tepat waktu, setiap kita dapat melaksanakan/menyelesaikan tugas tepat pada waktunya. Seakan kita terpuaskan dengan hasil jerih payah kita.
Misalnya: Orang muslim ia akan merasa bahagia bila ia dapat menunaikan sholat 5 waktu tepat pada waktunya, ia mampu membayar zakat pada waktunya, ia dapat melaksanakan ibadah haji ketika ia sudah mampu melaksanakannya tanpa ditunda-tunda.
Begitu juga guru ia akan merasakan kebahagiaan yang hakiki bila ia mampu menyelesaikan tugas keakademikan dengan baik, dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang lain seperti tugas kepanitiaan dll. Begitu juga seorang murid ia dapat melaksanakan tugas-tugasnya sebagai seorang pelajar. Belajar, mengerjakan tugas-tugas dari guru dll. Tidak ketinggalan juga pengurus osis dapat melaksanakan tugas-tugasnya sebagai pengurus osis dll.
Oleh karena itu kita harus memanfaatkan waktu kita dengan sebaik- baiknya ,karena waktu sangat sangat berharga didalam kehidupan kita , jangan pernah menunda suatu pekerjaan atau menunda kebaikan- kebaikan yang bisa kita lakukan pada saat itu juga atau pada hari itu juga.
اَلْوَقْتُ اَثْمَنُ مِنَ الذَّهَبِ
Waktu lebih berharga dari pada emas
اَلْوَقْتُ كَالسَّيْفِ اِنْ لَمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ
Waktu bagaikan pedang, jika kamu tidak dapat memotongnya(mengaturnya) , maka kamu akan dipotong ( diatur ) oleh waktu
اِذَا اَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاح, وَاِذَا اَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاء, خُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
Jika kamu berada di sore hari, maka janganlah kamu menunggu pagi hari, dan jika kamu berda di pagi hari, maka janganlah kamu menunggu sore hari, pergunakanlah sehatmu umtuk sakitmu dan pergunakan hidupmu untuk matimu.
Mengapa kita bahagia ?
Pertama : karena telah terbebas dari tugas yang kita miliki.
Kedua : merasa dengan melaksanakan tugas-tugas itu berarti kita layak berharap untuk mendapatkan pahala dari Allah SWT, setelah melakukan tugas-tugas itu sebagai imbalannya.
Semoga kita semuanya dijadikan oleh Allah SWT menjadi orang-orang yang istiqomah, orang-orang yang mempunyai rasa tanggung jawab, sehingga kita akan meraih kebahagiaan dunia maupun di akhirat.
Aamiin ya Robbal ‘Aalamiin
اَحْقَرُ الْوَرَى وَاَذْيَلُ الْبَشَرِ
“مــزافين أحمد “
oleh: Ahmad. Muzaffin, S. Pd
Kepala MTs. Terpadu Roudlotul Qur’an