HUKUM ELASTISITAS

Tubuh manusia itu elastic, seberapa elastic? Jawabannya ku temukan di KRD.

Tak tau kenapa orang-orang tetap saja suka dengan kedaraan umum yang menyiksa itu, termasuk aku. padahal sudah banyak juga yang selalu menggerutu dalam kereta. Dan kalimat yang terakhir muncul selalu mengharukan “kendaraan murah saja maunya neko-neko, yo gak lucu”. Dan jawabanku memang simple saja, murah n lebih dekat. Tidak perlu muter-muter seperti bus misalnya.

Kembali ke masalah elastisitas tubuh manusia. Mungkin yang juga kemudian mengilhami munculnya ide tentang tokoh kartun one piece. Ceritanya singkat saja. Waktu itu KRD full penumpang. Full dalam arti yang sebenarnya. Kalau digambarkan, mungkin seperti kalau kita memasukkan kapuk dalam karung bantal dan telah penuh semua, tak ada tempat untuk udara. Begitu memang keadaannya , udara hanya dapat berlenggang di atas kepala para penumpang, kebawah sedikit, sudah kejepit sana-sini. Intinya not for penderita bengek alias asma. Keadaan diperparah dengan asap rokok yang tanpa malu-malu menari-nari berkeliling berputar tak tentu arah dan tak bisa keluar, tak ada perputaran udara.. maju kena mundur kena, bernafas susah gak bernafas gila!. Penderitaan belum berakhir sampai disini, yang paling menyusahkan adalah dikarenakan adanya KRESS antar kereta. KRESS itu sebutan kami, para penggemar KRD untuk menggambarkan keadaan dimana dua buah kereta api saling berjalan diatas jalur rel yang sama, sehingga jika salah satu tidak berhenti, akan terjadi kecelakaan yang mengerikan. Dalam hal ini, KRESS dalam bentuk apapun maka yang seharusnya mengalah adalah KRD… maklum, murah. Seberapa murah? Kira-kira ongkos pulang pergi naik KRD tidak akan melebihi 5rb Rupiah bukan dolar.ini untuk jurusan bojonegoro-sby. Anehnya, masih ada saja para penjual keliling yang benar-benar berkeeliling memutari kereta menjajakan dagangannya, sesak, bejubel.. sampai aku berfikir, seandainya aku adalah seorang pencuri, sungguh tak tega aku mencuri uang dari mereka.

Saat itu aku berada di depan pintu antar gerbang, berdiri sambil memanggul tas ranselku yang super berat, disampingku berdiri pula para manusia-manusia senasib seperjuagan. Tiba-tiba dari arah dalam kereta muncul seorang perempuan dengan badan gemuk, bukan, super gemuk, bukan super duper gemuk, bukan, mendekati obesitas. Ya… diantara bejubel manusia makhluk penyandang julukan si obesitas berjalan terseret-seret mendekatiku..wajahnya terlihat tersiksa sekali saat harus melewati bejubel manusia yang menghalangi langkah sucinya. Seperti keajaiban, tubuh sebesar itu, walaupun dengan susah payah dapat juga melewati satu demi satu rintangan yang menghadang. Sekarang giliranku menerima tantangan si obesitas untuk dilewati, tapi sepertinya tak mungkin. jarakku dengan punggung seorang penjual onde-onde keliling yang kecapekan dan berdiri tepat di depanku hanya beberapa jengkal saja, mungkin satu atau dua jengkal, namun diameter the wonder women itu hamper berjengkal jengkal… mana mungkin muat, it’s so impossible. Ora mungkin iso. Tapi apa yang terjadi, keajaiban itu pun berlaku di hadapanku… tubuh WOW itu dengan gesit, walau agak bersusah payah, akhirnya bisa lolos dengan selamat. Pyuhhh… koq bisa! Elastisitas, iya elastisitas tubuh manusia, one piece. Padahal setelah itu, sebuah tas yang dibawa oleh sang perempuan, walau hanya leebih besar sedikit dari besar jalan yang ada untuk dilewatinya, susah payah baru bisa dikeluarkan dengan rasa sakit ditubuh yang tersentuh olehnya. Jawabannya simple saja, gak elastis sih.

Kenapa mesti mandi sauna dengan biaya mahal, keringat mengucur deras tanpa bayar disini. Ayo, naik KRD… murah, banyak hiburan, banyak manfaatnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *