Kan’an
Sebut saja Kan’an, potret seorang Bani Rasib yang tidak lepas dari interaksi pendidikan transaksional orang tuanya, namun akhirnya ‘terpental’ dari bahtera sang Ayah, Nuh bin Lamik.

Seperti yang lain, Kan’an terlahir dalam keadaan fitrah, ibarat kertas putih yang siap digores dengan corak apapun tanpa mengubah hakekat jalan hidupnya, dan dan Nuh telah mendesainnya dengan tinta Tauhid, penghambaan kepada Tuhan kakek moyangnya. Nuh denganperangai lembutnya mengharapkan sang anak keluar dari Ma’bad (baca : tempat penyembahan berhala) yang sarat kemusyrikan, disertai gerakan sadar untuk menghindari pergumulan dengan orang-orang kafir dan kembali ke jalan yang lurus bersamanya. Namun dominasi rasional Kan’anyang telah berkarat di akal sehatnya menjadikan enggan menerima titah Tuhan yang dibawa ayahnya. Kan’an lebih mempertahankan egonya, mempercayai bahwa segala kenikmatan bersumber dari Wadd, Suwa, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr, para berhala pujaannya. Hingga pada puncaknya, ketika kapal Nuh berlayar kekar menggilas gelombang besar laksana gunung, Kan’an tegar dengan kesombongannya, ia mamacu kencang seekor kuda hendak mengalahkan tingginya air bah. Nuh memelas, mengharap sang anak yang berada di tempat terpencil kembali ke pangkuannya untuk yang terahir kali seraya berkata :”Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir. Tidak ada yang melindungi hari ini dari adab Allah selain Allah (saja) yang Maha Penyayang”. Dengan bahasa diplomatis ia mengatakan : “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” dan gelombang pun menjadi penghalang antara keduanya, memutuskan dialog yang penuh dengan tawar-menawar keimanan antara anak dan ayah. Maka, jadilah Kan’an termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.
Kan’an tidak sendiri, tidak pula mengingkari sang ayah secara sporadis tanpa energi negatif yang mempengaruhinya. Ia bersama Wali’ah, ibunya yang lebih dulu menentang dogma yang difatwakan suaminya, walaupun sebelumnya ia pernah mengakui eksistensi suaminya sebagai seorang Rasul, serta khawatir atas berita datangnya bencana yang dijanjikan oleh Allah. Wali’ah bahkan bermuka dua, menjadi mata-mata segala aktifitas serta penghalang keinginan umatnya untuk bertemu suaminya, dan tentu saja karena pengaruhnya, sang anak pun akhirnya terjerumus ke dalam lingkaran Berhala, terpatri dalam hegemoni agama raja yang mengharuskan rakyatnya termasuk Kan’an menyembah berhala. Wali’ah secara kasat mata ikut menyoretkan tinta hitam di lembaran akidah Kan’an.
Nuh tidak berputus asa, sikap emosionalnya sebagai seorang ayah sekaligus suami dari Wali’ah telah mengalahkan pertimbangan rasional terhadap apa yang telah terjadi. Ia menagih janji Allah yang akan menyelamatkan mereka seraya berkata : “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku temasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya.” Allah berfirman : Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikian akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya, perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” Rasul pertama untuk umat manusia itu hanya menyesal.
Saya tercenung, karakter kerasulan Nuh ternyata tidak mampu mengantarkan Kan’an melenggang diatas bahtera menuju bukit Judy bersamanya. Nuh memang gagal, namun bukan berarti tidak menjalankan transformasi pendidikan akidah dan moral secara totalitas, tidak menjadi teladan atau bahkan melupakan keluarga karena berdakwah di depan khalayak kaumnya. Justru keluarga bagi Nuh adalah segalanya. Ia menyangka bahwa Kan’an tetap berada di barisan pengikutnya, sehingga Nuh mencegahnya untuk tidak bergaul dengan orang-orang kafir, agar terlepas dari teologis yang membelenggu kaumnya.
Kisah tragik Kan’an; simbol dari kekuasaan Allah, sebuah fenomena kehidupan yang menggambarkan bahwa Allah lebih memahami apa yang menjadi rahasia makhluknya, dan hakim yang seadil-adilnya sebagaiman seruan Nuh, serta peringatan bagi para orang tua agar tidak lengah dengan pendidikan ketauhidan anaknya. Atau memang secara sengaja memutus ikatan keluarga yang berdasarkan hubungan akidah dengan melupakan penanaman ajran agama yang kuat.
Saya khawatir, Kan’an tidak sendiri.
By: M. Sholihuddin
Di sarikan dari majalah Tafakur