Sajak Fibonacci

Satu, satu, dua, tiga

Apa kau suka bunga?

 

Satu, satu, dua, tiga

Kau jawab iya dan berceloteh tentang asam basa dan pigmen-pigmen yang menjadikannya berwarna indah

 

Satu, satu, dua, tiga

Apa kau tahu daun?

 

Satu, satu, dua, tiga

Tentu: jawabmu. Lantas berkisah tentang klorofil dan sekutu-sekutunya yang giat meramu udara bersih

 

Lantas bagaimana dengan dahan dan ranting pohon?

Tentu kau akan berkisah tentang xilem, floem, dan  kroni-kroninya

 

Ah, lantas mengapa tak kau sebutkan bilangan Fibonacci*?

 

Satu, satu, dua, tiga

Bahkan kelopak bunga tersusun dalam jumlah yang rapi

Daun-daun tumbuh dengan irama Fibonacci

Dahan ranting tak kalah mengikuti

 

Mengapa tak kau sebutkan bilangan Fibonacci?

Bukankah semesta tersusun dengan ukuran rinci?

Bunga tak asal berkelopak satu dua

Daun tak asal tumbuh merimbun tanpa pola

Dahan ranting tak serta merta memanjang bercabang tanpa aturan

Lalu kau bertanya, “Sungguhkah aku melewatkannya?”

Satu, satu, dua, tiga

Bukankah sejak kecil kau mengenal angka?

Bukankah kau belajar angka berpola?

Tapi kau tak suka ketika angka-angka mulai sulit diterka

Dengan peubah-peubah dan notasi tak nyata

Yang tak akan ditanya dalam perjalanan ke alam sana

Katamu demikian

 

Satu, satu, dua, tiga

Jadi, bagaimana jika angka-angka mulai bertanya

Satu, satu, dua, tiga

Apa kau suka Matematika?

 

Lamongan, Oktober 2017

 

 

*)Bilangan Fibonacci/Barisan Bilangan Fibonacci adalah barisan yang angka berikutnya didapat dari penjumlahan dua angka sebelumnya. Contoh: 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, dst. Bilangan 2 diperoleh dari penjumlahan 1 + 1, bilangan 3 diperoleh dari penjumlahan  1 + 2, bilangan 5 hasil penjumlahan 2 + 3, dan seterusnya.

 

By: Pratiwi Parmawati, S.Pd

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *